Museum I La Galigo

Untitled Document

Kembali ke postingan yang ke-2 yakni tentang I La Galigo. Nah, di posting kali ini saya akan membahas  tentang Peninngalan  I La Galigo di Museum Rotterdam. Salah satu nama museum juga merupakan dulunya adalah benteng Belanda di Sulawesi  Selatan.Museum ini memiliki koleksi sebanyak kurang lebih 4999 buah yang terdiri atas koleksi prasejarah, numismatik, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi etnografi terdiri atas berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup, serta benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Museum juga memiliki benda-benda yang berasal dari kerajaan-kerajaan lokal dan senjata yang pernah digunakan pada saat revolusi kemerdekaan. (http://bit.ly/moctHo)

Daftar Gambar : (http://bit.ly/kLRZlE)

Iklan

I La Galigo, Naskah Kuno Bugis yang Mendunia

Tetap berdiri di Kategori Bahasa & Sastra. Kali ini saya akan mencoba Post baru  & mendebarkan dunia, yakni tentang Naskah I La Galigo, sebuah naskah kuno Bugis yang ditulis denan bahasa Bugis Kuno dimana sangat sedikit orang Bugis sendiri yang faham tentag bahsa ini. Saya mendapatkan informasi ini dari Harian Republika, karena isinya sangat bagus maka saya memilih I La Galigo sebagai posting kedua dalam Kategori Bahsa & Sastra. Sekedar informasi, naskah aslinya ada di erpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah itu dibawa Dr. Benjamin Frederik Matthes sekitar tahun 1800-an. Naskah I La Galigo juga tersebar di beberapa negara. Selain empat di Inggris dan beberapa naskah di Belanda, lima naskah I La Galigo juga tersimpan di Library of Congress Washington DC, Amerika Serikat. Naskah-naskah tersebut, Bugis (1) War betw Two Rajahs, Bugis (2) Day of Judgement-fr. The Koran, Bugis (3) A Tale, Bugis (4) A Rajah’s courtship, Bugis (5) Marriage froms, dsb. Dan berikut uraian tentang naskah I La Galigo yang mendunia.

I La Galigo adalah sebuah sejarah mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis di antara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.

Sejarah ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan tradisional Bugis penting. Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, di mana versi-versi yang sebelumnya telah hilang akibatserangga, iklim atau perusakan. Akibatnya, tidak ada versi Galigo yang pasti atau lengkap, namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6.000 halaman atau 300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terbesar.

Ada dugaan pula bahwa sejarah ini mungkin lebih tua dan ditulis sebelum sejarah Mahabharata dari India. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Sejarah ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.

I La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun demikian, sejarah ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14.

Versi bahasa Bugis asli Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. Sejauh ini Galigo hanya dapat dibaca dalam versi bahasa Bugis aslinya. Hanya sebagian saja dari Galigo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tidak ada versi lengkapnya dalam bahasa Inggris yang tersedia. Sebagian manuskrip I La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang sejarah ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah muka surat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000, tidak termasuk simpanan pribadi pemilik lain.

Hikayat I La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater I I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004.

Sejarah ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge’ langi’ menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge’ langi’ kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu’, sebuah daerah di Luwu’, sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.

Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu’. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma’dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware’) dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu’ dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.

Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau’ dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau’ dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.

Sawerigading adalah ayah I I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I I La Galigo tidak pernah menjadi raja.Anak lelaki I I La Galigo yaitu La Tenritatta’ adalah yang terakhir di dalam sejarah itu yang dinobatkan di Luwu’.

Isi sejarah ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.

Dari Berbagai Sumber

Hidup Untuk Menulis

Menulis adalah slah satu media yang dapat digunakan untuk mengekspresikan diri, melalui coretan pena diatas kertas atau media lain. Bagi seseorang yang suka menulis, hal ini merupakan suatu kebutuhan hidup dan juga sebagai pelepas dahaga ketika rasa haus tiba.

Sebagai langkah awal untuk menulis, langkah kongkrit yang perlu dilakukan adlah menumbuhkan sifat yakin dan selalu berfikir positif dengan hasil coretannya. Dengan yakin, kita akan lebih percaya diri sehingga kita mampu berfikir positif untuk terus menerus menulis dan hal ini mampu membuat seseorang tidak putus asa. Untuk itulah, menulis harus menjadi kebiasaan, sehingga nantinya seseoran bisa belajar dari kebiasaan – kebiasaan tersebut.

Selain itu, jadikan langkah menulis sebagai tantangan karena tantangan bias dijadikan pedoman untuk langkah selanjutnya. Sebab melalui tantangan, manusia akan berusaha untuk mengarunginya denan tujuan untuk melewati langkah selanjutnya.

Sebuah tulisan akan membawa penulisnya menuju kenikmatan sendiri. Oleh seorang penulis sebuah kata tidak hanya menjadi penghias tulisan di atas kertas saja, melainkan makna yang dalam yang bisa berisi nasihat, kritik dsb.

Untuk menulis sendiri seseorang dituntut mengikuti informasi – inormasi global (umum) karena dengan mengikuti informasi – informasi global, coretan yang dihasilkannya pun bisa lebih bermakna dan juga menambah bobot coretan yang dihasilkannya. Langkah ini juga bermanfaat bagi penulis secara pribadi, dimana penulis akan bertambah pengetahuan dan wawasan melalui informasi – informasi yang di dalamnya.

Kita bisa meneladani salah satu tokoh sufi, Jalaluddin Ar – Rumi seorang tokoh sufi Persia, sekaligus imam Thoriqoh Maulawiyah merupakan seorang penyair yang kaya dengan kaya islamis yang menarik, dimana beliau menggunakan tulisan ini untuk menyiarkan agama Islam secara keseluruhan. Karya – karyanya yang diakui dunia, bahkan melalui UNESCO serta mendapat respon positif dari masyarakat dunia dengan menunjukkan kekaguman pada diri Sufi ini.

Kesimpulannya, menulis bukan hanya menghasilkan coretan belaka, tetapi ada makna luas di dalamnya. Jadi, berfikirlah tentang ‘’Hidup Untuk Menulis”  maka kamu akan menemukan makna indah di dalamnya.